Melaluimuatan materi yang disajikannya dalam 5 (lima) elemen keilmuan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti antara lain al- Quran dan hadis, akidah, akhlak, fiqih, dan sejarah peradaban Islam, pelajaran agama Islam dapat berkontribusi dan menguatkan terbentuknya profil pelajar pancasila sebagai pelajar sepanjang hayat (min al-mahdi ila al-laងdi) yang beriman dan
Untukitulah Rasulullah diutus di dunia ini. Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia secara luas, agar mereka tidak berada dalam kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para muâallim (guru), dan ulama untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
AQIDAH- RUKUN IMAN Iman adalah Urat nadi dalam ajaran islam . harus dipelihara , agar tetap teguh beriman , tidak terpengaruh oleh berbagai godaan dan keadaan . Kita ketahui kehadiran para Rasul adalah untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar. Jika umat manusia tidak dibimbing oleh para rasul maka manusia tidak akan mengetahui:
ï»żAkidahIslam membimbing umatnya agar. a. sejahtera hidupnya b. hidupnya diridhoi Allah Swt. c. tetap sehat jasmani dan rohani d. dapat menentukan jalan hidupnya (25) 9. Islam disebut agama tauhid karena. a. Allah Swt.menguasai alam semesta b.
ajaranpokok yang mesti diajarkan agar umatnya memiliki dan melaksanakan akhlak yang mulia sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.6 Abdul Majid dan Dian Andayani, menjelaskan bahwa materi pendidikan agama Islam berdasarkan rumusan dari pokok ajaran Islam meliputi aqidah (keimanan),
LARANGANISLAM BAGI UMATNYA UNTUK MENIRU-NIRU,MENGIKUTI ATAU MENYERUPAI UMAT LAIN Gambar : Ilustrasi. Misalnya dalam hal mode pakaian, agar tidak disebut ketinggalan mode dan zaman maka diikutilah mode tersebut meskipun mode tersebut tidaklah cocok dikenakan untuk dirinya.
AliImran 19 dan 85). Allah SWT memperingatkan Rasulullah saw. dan umatnya agar tidak tertipu oleh kemudahan akses yang dimiliki orang-orang kafir kepada kehidupan dunia. Dia SWT berfirman: Allah SWT membimbing Rasul-Nya agar membimbing umat Islam agar senantiasa istiqomah mengikuti jalannya dan tidak terpengaruh oleh jalan-jalan selain
MemahamiAkidah Islam Kelas 7. 0% average accuracy. 0 plays. 7th grade . Religious Studies
WwcyTBE. Buletin At-Tauhid edisi 47 Tahun ke X Bismillah wa laa haula wa laa quwwata illa billah Allah Taâala berfirman yang artinya, âSesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang derajatnya di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nyaâ QS. An Nisaa 48 Allah juga berfirman yang artinya, âSesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga untuknya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpunâ QS. Al Maa-idah 72 Tentu kita telah mengetahui akan bahaya kesyirikan. Dimana Allah Taâala tidak akan mengampuni dosa kesyirikan dan akan mengharamkan surga bagi orang yang berbuat syirik namun belum bertaubat hingga ajal menjemput. Oleh karena itu, kesyirikan merupakan bahaya terbesar yang mengancam umat. Diutusnya rasul, nikmat Allah kepada manusia Diantara nikmat Allah Taâala kepada umat manusia adalah diutusnya seorang rasul yang memperingatkan umatnya dari bahaya besar kesyirikan ini. Seorang rasul yang bersemangat membimbing umatnya menuju kebaikan tauhid. Allah Taâala berfirman yang artinya, âSungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukminâ QS. At Taubah 128 Pada ayat yang mulia di atas, Allah menyebutkan bagaimana sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap umat beliau. Sifat-sifat tersebut berkonsekuensi bahwa beliau akan memperingatkan dan memerintahkan umat beliau agar waspada dari kesyirikan yang merupakan dosa terbesar. Bahkan beliau sangat keras saat melarang umat beliau melakukan hal-hal yang dapat menjerumuskan kepada kesyirikan, semisal mengagungkan kuburan dan berlebihan terhadap kubur, shalat di samping kubur atau shalat menghadapnya, dan berbagai perantara menuju kesyirikan yang lainnya. Fathul Majid, hal. 266 Upaya Nabi menjaga tauhid umat Ada sebuah pesan yang Nabi sampaikan untuk umat beliau demi menjaga mereka dari ketergelinciran kepada kesyirikan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âJanganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan janganlah kalian jadikan kuburku sebagai ied tempat yang selalu dikunjungi. Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimana saja kalian beradaâ HR. Abu Dawud, Ahmad Pada hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang membiarkan rumah seseorang kosong dari ibadah shalat sunnah, berdoâa, atau membaca Al Qurâan sehingga seolah-olah rumah seperti kuburan. Nabi juga melarang umat beliau membiasakan ziarah ke kubur beliau dan mengadakan acara rutin kumpul-kumpul di dekat kubur beliau dalam rangka berdoâa atau mendekatkan diri kepada Allah. Karena hal tersebut termasuk perantara menuju kesyirikan. Nabi membimbing umat beliau agar tidak melakukan hal di atas, lalu mengarahkan mereka untuk memperbanyak bershalawat dan salam kepada beliau di manapun berada, karena shalawat kepada beliau akan sampai kepada beliau baik dari tempat yang dekat maupun dari tempat yang jauh sekalipun dari kubur beliau. Sehingga tidak perlu repot-repot mendatangi kubur Nabi hanya untuk bershalawat kepada beliau. Al Mulakhas fi Syarh Kitab Tauhid, hal. 185 Jangan menjadikan rumah seperti kuburan Sabda Nabi, âJanganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburanâ memiliki dua pengertian 1. Jangan mengubur mayit di dalam rumah, tapi kuburlah di pemakaman umum kaum muslimin. Inilah kebiasaan yang telah dilakukan kaum muslimin sejak masa Rasulullah hidup. Jika muncul pertanyaan âBukankah Rasulullah dikubur di rumah beliau?â Jawabannya ada dalam hadits Abu Bakar radhiyallahu anhu yang menyatakan bahwa seorang nabi dikuburkan di tempat wafatnya HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad. 2. Janganlah menjadikan rumah kalian seperti kuburan, tidak pernah dilakukan shalat di dalamnya, sepi dari lantunan ayat Al Qurâan maupun panjatan doâa. Kedua makna tersebut benar. Jika kita merenungi makna kedua, teranglah bagi kita penjelasan dari Nabi bahwa kuburan bukanlah tempat untuk ibadah Al Qaulul Mufiid ala Kitab Tauhid, hal. 284 Larangan menjadikan kubur sebagai masjid Dari hadits di atas juga disimpulkan adanya larangan menjadikan kubur sebagai masjid. Bahkan terdapat dalil tegas terkait hal ini, yakni sabda Rasulullah, âJanganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut!â HR. Muslim Menjadikan kubur sebagai masjid ada dua bentuk 1 Membangun masjid di atas kubur, atau 2 shalat di samping kubur, karena masjid bisa berarti semua tempat dilaksanakannya shalat. Menjadikan kubur sebagai masjid termasuk sarana menuju kesyirikan sehingga Nabi pun melarang hal tersebut. Al Qaulul Mufiid, hal. 285 Janganlah menjadikan kubur Nabi sebagai ied Makna sabda beliau âjanganlah kalian jadikan kuburku sebagai iedâ adalah, beliau melarang umat beliau merutinkan dan membiasakan berziarah ke kubur beliau, karena hal tersebut dapat membuat Nabi diagungkan seperti diagungkannya Allah. Menjadikan kubur sebagaiâied termasuk perantara terjadinya kesyirikan. Oleh karena itu, Nabi membimbing agar umat beliau cukup bershalawat di manapun mereka berada, agar umat beliau tidak rutin berziarah ke kubur beliau. At Tamhid Syarh Kitab Tauhid, hal. 276. Namun catatan penting, bukan berarti ziarah kubur itu haram. Ziarah kubur hukumnya sunnah. Yang terlarang di sini adalah merutinkan ziarah ke kubur Nabi sehingga dikhawatirkan justru ziarah tersebut menjadi sarana terjadinya kesyirikan. Bagaimana berziarah kubur yang sunnah? Sebagaimana sabda Rasulullah, ziarah kubur disyariâatkan agar peziarah dapat mengambil pelajaran dan mengingat kematian. Jika demikian alasannya, tentu semua kubur bisa diziarahi, sebab semua kuburan akan mengingatkan seseorang kepada kematian. Sehingga, jika ada yang mengkhususkan ziarah hanya ke kubur Rasulullah dan merutinkannya, tentu ada keyakinan tersembunyi dibalik perbuatannya tersebut. Inilah yang Rasulullah khawatirkan. Sarana menuju kesyirikan. Akhirnya meminta kepada Rasulullah yang telah wafat, bukan kepada Allah Yang Maha Hidup. Kesimpulannya, Rasulullah melarang umat beliau merutinkan ziarah ke kubur beliau. Jika ingin mendoâakan beliau, cukup bershalawat untuk beliau dimanapun kita berada. Sebab shalawat umat beliau akan disampaikan kepada beliau, meski dari orang yang tinggal di ujung dunia. Kisah ahlu bait menegur orang yang berdoâa di kubur Nabi Diriwayatkan oleh Dhiyaa-uddin Muhammad Al Maqdisi dalam Al Mukhtarat, Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu âtermasuk ahlu bait Nabi yang paling shalih- pernah menjumpai seseorang berjalan menuju celah dinding dekat kubur Nabi lalu berdoâa di sana. Beliau pun melarang orang tersebut dari perbuatannya dan membawakan sabda Rasulullah, âJanganlah kalian menjadikan kuburku sebagai ied, jangan menjadikan rumah kalian seperti kuburan. Bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadakuâ Dalam hadits di atas, terdapat larangan bersengaja mendatangi kubur Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk berdoâa di sana. Jika kepada kubur Nabi saja tidak diperkenankan, apalagi ke selain kubur beliau? Karena hal tersebut âmembiasakan datang ke kubur Nabi- termasuk menjadikan kubur Nabi sebagai ied, yang merupakan perantara menuju kesyirikan. Al Mulakhas, hal. 187 Keistimewaan ibadah di dekat kubur? Tak diragukan lagi, lelaki yang ditegur oleh Ali bin Al Husain di atas rutin mendatangi kubur Nabi untuk berdoâa tentu dilandasi keyakinan adanya keutamaan atau keistimewaan beribadah di dekat kubur. Keyakinannya tersebut dapat membuka jalan terjadinya kesyirikan. Perlu diketahui, seluruh ibadah yang kebetulan dilaksanakan di dekat kubur âsemisal menshalatkan mayit yang telah dikubur bagi orang yang tertinggal shalat jenazah, atau mendoâakan mayit, atau membaca Al Qurâan- tidak boleh dilandasi dengan keyakinan adanya keutamaan ibadah di sisi kubur. Al Qaulul Mufid, hal. 287 Karena memang kubur bukanlah tempat ibadah, tapi tempat memakamkan mayit. sebagaimana sabda Nabi sebelumya, âJangan menjadikan rumah kalian seperti kuburan yakni sepi dari ibadahâ Larangan berlebihan dalam agama Rasulullah juga melarang kaum muslimin berlebihan dalam agama, khususnya dalam menyikapi orang shalih. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âJanganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nyaâ HR. Bukhari dan Muslim Tidak boleh seorang muslim berlebihan dalam menyanjung Rasulullah. Berlebihan dalam menyanjung Rasulullah dapat menggelincirkan seseorang kepada kesyirikan. Namun katakanlah Rasulullah adalah hamba Allah yang tidak boleh disembah, dan utusan Allah yang tidak boleh didustakan. Semua dalam rangka menjaga tauhid umat Kita sepatutnya bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke tengah-tengah kita. Seorang Nabi yang bersemangat membimbing umatnya menuju kebaikan tauhid, dan tegas melarang umatnya melakukan berbagai perantara terjadinya kesyirikan dengan dilandasi rasa kasih sayang kepada mereka. Semua larangan yang beliau tegaskan adalah untuk menjaga kemurnian tauhid di tengah-tengah kaum muslimin. Mari wujudkan rasa syukur kepada Allah dengan mentaati seluruh perintah Rasulullah, dan meninggalkan segala macam kebiasaan yang menyelisihi larangan beliau. Allah Taâala berfirman yang artinya, âKatakanlah wahai Muhammad âJika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamuâ QS. Ali Imran 31. Wa billahit taufiq. Penulis Yananto Sulaimansyah Murojaâah Ustadz Afifi Abdul Wadud