Walatansa nasibaka minaddunya. Dan La yukallifullahu nafsan illa wus'aha. Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa. Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia. Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat. Sehingga kita tidak mampu memikulnya.
Tahunbaru Islam ***** Muharram merupakan bulan yang sangat berpengaruh pada sejarah kehidupan umat Islam. Suatu bulan yang menjadi
HalilintarMahaputra Edi Morgen (Lintar Idola Cilik 3) Diposting oleh Sendang Tri Winayu di 21.15 0 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest
Waktuseolah menuntut bahwa otak ini harus berpikir, dan menghasilkan. Sesuatu yang tak percuma. sesuatu yang bernilai. ada kandungan warisan dan ada kandungan makna.
Walatansa nasibaka minaddunya Dan La yukallifullahu nafsan illa wus’aha Jelas Allah tidak hanya menyuruh kita untuk sholat dan puasa Allah juga menyuruh kita untuk mencari dunia Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Dalamayat lain Allah juga berfirman Wala tansa nasibaka minaddunya Dan La yukallifullahu nafsan illa wus'aha Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat Sehingga kita tidak mampu memikulnya Walaupun itu ibadah
Dalamayat lain Allah berfirman:“Wala tansa nasibaka minaddunya”. Dan La yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Jelas Allah tidak hanya menyuruh kita untuk sholat dan puasa, Allah juga menyuruh kita untuk mencari dunia. Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat. Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Merekaketakutan hidup di dunia. Mereka menangis dengan nasibnya di dunia. Meminjam salah satu petuah Mbah Tedjo, "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab suci. Khawatir besok tidak bisa makan saja, itu sudah menghina Tuhan." Maka tak perlu lah kita menangisi apapun yang terjadi di dunia.
xi13P. Dipublikasikan oleh Ridwan Anwar pada on 20 September 2013. Waka PTA Manado Ingin Bahagia, Pakai Rumus 3-2-1 Manado Seperti biasa, setiap Senin, Rabu dan Jumat warga PTA Manado mengkuti kegiatan kultum setelah bersama-sama melaksanakan shalat Ashar. Pada Rabu 18/9/2013, yang bertugas membawakan kultum adalah Wakil Ketua PTA Manado, Drs. H. Abuhuraerah, SH., MH. Selain sebagai pembawa kultum, beliau juga bertindak sebagai imam shalat. Mengawali penyampaiannya, Abuhuraerah membacakan sebuah ayat al Qur’an yang berbunyi “Wabtaghi fima atakallah Dar al Akhirah, wala tansa nasibaka minaddunya”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi. Menurutnya, seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat harus menjalankan rumus 3-2-1. Maksudnya adalah ada tahapan-tahapan yang harus dilewati. Penjelasannya yaitu, tahapan pertama seseorang perlu melakukan 3 langkah. Pertama ikhtiar, dimana tindakan ini merupakan usaha seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Kedua, berdoa. Yaitu tindakan yang memohon kepada Allah agar dikabulkan apa yang menjadi hajatan. Tanpa berdoa, seseorang bisa dicap sebagai hamba yang sombong. Sementara yang ketiga adalah tawakkal, yakni penyerahan totalitas kepada Sang Khalik. Nah, jika tiga etape ini telah dilewati, maka ada 2 kemungkinan. Berhasil atau Gagal. Jika berhasil, maka seseorang harus bersyukur, jika belum, maka bersabar. Setelah tahapan ini dilakukan, tentunya ada 1 step yang mesti dihadirkan, yakni dengan mengharap keridhaan Ilahi. Jadi rumus 3-2-1, adalah Iktiar, Berdoa dan Tawakkal, kemudian Bersabar dan Bersyukur serta Mengharap keridhaan Ilahi. Jika semua sudah dilewati, tentunya seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Fiq
Wala tansa nasibaka minad dunya Dan jangan sampai engkau melupakan nasibmu di dunia Ini ayat yang menunjukkan letak peradaban manusia dalam rangka pemenuhan nasibnya di dunia. Ini adalah ayat rambu rambu dan menjadi tolak ukur bagaimana manusia akan bersikap. Kalau manusia mengartikannya bahwa ini adalah ayat penegasan dan sebagai legitimasi untuk sebanyak banyaknya mencari dunia dalam rangka mengisi kehidupannya, ini mjdi ayat yg bisa d jadikan landasan untuk sebanyak banyaknya mengeruk dunia. Menghabiskan waktu dan ruang untuk mengisi kebutuhan akan dunia. Tapi kalo manusia mentadabburinya sbgai ayat peringatan bahwa sudahlah hidup di dunia ini sementara saja. Penuhi hari hari manusia dengan visi misi kehidupan akhirat. Dan dalam perjalanan pemenuhan visi misi itu, yah sekedar jngan lupa saja untuk mengisinya untuk keperluan dunia. Prosentase terbesarnya adalah kehidupan yang akan berlangsung selamanya setelah manusia meninggalkan dunia This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tukang service sehabis sholat dikeroyok dan dibakar hidup-hidup. Al-Quds dibantai teroris-teroris yang katanya Zionis. Pemerintah mengadakan dzikir kebangsaan. HT mendukung Pemerintah Pak Dhe Joko. Mbah Nun diadu domba dengan NU. Sesama ormas saling dibenturkan. Kecelakaan beruntun di Jln. Kudus-Pati. Meriahnya HUT RI ke-72 di Desa Jetak Wedung Demak. Sampai Neymar pindah ke di atas adalah judul berita yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan masyarakat online pun offline. Semua manusia—tidak semua itu semua, semua juga bisa memiliki makna sebagian— seragam memperbincangkan judul-judul tersebut. Baik skala nasional, lokal, kecamatan, desa, internasional, jin, setan, dhemit, sampai para malaikat pun ikut dibingungkan oleh manusia. Semua manusia serempak memikirkan hajat-hajat yang tentu bukan hajat mereka, sehingga mereka lupa hajatnya berkumpul, mempergunjingkan, ngalor-ngidul tanpa solusi, mereka pulang dengan kehampaan dirinya. Mereka lupa, mereka belum kaya, juga belum ijin Tuhan, belum selesai urusannya, mereka sedih sendiri. Mereka ketakutan hidup di dunia. Mereka menangis dengan nasibnya di dunia. Meminjam salah satu petuah Mbah Tedjo, "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab suci. Khawatir besok tidak bisa makan saja, itu sudah menghina Tuhan." Maka tak perlu lah kita menangisi apapun yang terjadi di dunia. Tak perlu mencitrakan diri sebagai yang paling solidaritas, paling toleran, dan yang paling paling lainnya, meski itu baik. Cukuplah tak perlu takut besok-tidak-bisa-makan dengan cara bekerja, meng'kaya'kan diri, keluarga, serta lingkungan sosialmu. Biarlah Mendikbodo ribut dengan FDSnya, biarlah rektor Unn*s ribut dengan presiden BEM kampusnya. Selesaikan dulu nasibmu, sehingga tak ada lagi kekhawatiran dan ketakutan di dunia. Selesaikan Agustus 2017-Nb Judul ini merupakan tema majlis maiyah Mocopat Syafaat, Juli Arafat, yang terus berjuang menjadi Muslim. Lihat Sosbud Selengkapnya